Khutbah Jum’at: Peta Perjalanan Hidup

Pexels Gr Stocks 1716147 8522572 1024x683

الحمدُ للهِ بارئِ النَّسَم، ومُحيي الرِّمم، وباسطِ النِّعَم، وجامعِ الأمم، .

نحمده ونشكره، ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا.

وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، شهادةً تُنجينا من أهوالِ يومِ القيامة.

وأشهد أن محمدًا عبدُه ورسولُه، أرسله اللهُ رحمةً للعالمين، وقدوةً للسالكين.

اللهم صلِّ وسلِّم على سيدنا محمد، وعلى آله وصحبِه أجمعين.

أَمَّا بَعْدُ:

، فَيَآ أَيُّهَا المُؤْمِنُوْنَ

فَإِنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ الْقَائِلِ فِيْ مُحْكَمِ كِتَابِهِ :

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

Maasyiral Muslimin Rahimakumullah

Pada momentum mulia ini, khatib berwasiat dan mengajak seluruh jamaah untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah swt. Wujud hasil dari ketakwaan tersebut adalah kita bisa menjalankan semua perintah Allah dan mampu meninggalkan larangan-laranganNya. Mari kita evaluasi diri kita, apakah kita sudah mampu menjalankan apa yang diperintahkan Allah? apakah kita sudah bisa menghindari dan meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah?.

Jamaah Shalat Jumat yang InsyaAllah dirahmati Allah

atas dasar ketakwaan ini lah kita dapat berkumpul melaksanakan shalat jumat berjamaah. Setelah shalat jumat ini, atas nikmat dan rahmat Allah kita bisa melanjutkan beraktivitas. Ada yang pulang makan Bersama keluarganya, ada yang berangkat ke kantor melanjutkan pekerjaannya, ada yang kembali mengontrol perkembangan bisnisnya. Dan berbagai kesibukan lainnya.

Hingga tiba waktu asar, maghrib, isya dan beristirahat kemudian melanjutkan aktivitas keesokan harinya. Begitu dinamisnya waktu ini. Berpindah dari ibadah satu ke ibadah berikutnya. Dari amal sholeh satu ke amal soleh lainnya. Dari tempat satu ke tempat lainnya.

Jamaah sholat jumat yang dirahmati Allah

Jika kita renungi Bersama, hidup ini tentang perjalanan. Dari tempat satu ke tempat lainnya, kemudia beristirahat dan melanjutkan ke tempat pemberhentian. Dalam setiap perjalan tersebut kita tentunya tau ke mana pemberhentian selanjutnya. Kita tahu rambu rambu serta norma norma agar perjalanan kita bisa tertib lancar sampai tujuan.

Oleh karenanya sebagai insan yang dikaruniai akal kita tentunya menyiapkan bekal agar bisa sampai ke pemberhentian berikutnya. Hingga ke tempat pemberhentian akhir perjalanan kita Bersama yaitu menghadap Allah.

Nabi Muhammad SAW dalam hadistnya menasehati para sahabat.:

> “إنَّ لَكم مَعالِم، فانتهوا إلى مَعالِمِكم،

 وإنَّ لكم نِهاية، فانتهوا إلى نِهايتكم.

“Sesungguhnya bagimu ada tanda-tanda petunjuk jalan, maka berhentilah pada tanda-tanda tersebut. Dan kalian memiliki akhir, maka berhentilah di akhir tujuan kalian.

 وإنَّ المؤمنَ بين مخافتين:

 بين أجلٍ قد مضى لا يدري ما اللهُ صانعٌ فيه،

 وأجلٍ قد بقي لا يدري ما اللهُ قاضٍ فيه.

. Seorang mukmin hidup di antara dua ketakutan: antara ajal yang telah berlalu (dan ia tak tahu apa yang Allah lakukan padanya), dan ajal yang tersisa (dan ia tak tahu apa yang Allah tetapkan nanti).

 فليأخذ العبدُ من نفسِه لنفسِه، ومن حياتِه لموتِه، ومن دنياه لآخرته، ومن شبابِه قبلَ هرمِه. فوالذي نفسُ محمدٍ بيدِه، ما بعد الدنيا من دارٍ إلا الجنةَ أو النار.”

Maka ambillah dari hidupmu untuk kematianmu, dari duniamu untuk akhiratmu, dari masa sehatmu sebelum sakitmu, dan dari mudamu sebelum tuamu. Demi Allah, tidak ada tempat setelah dunia ini kecuali surga atau neraka.”

Nasehat Nabi tersebut mengajak kita untuk sadar, bahwa waktu berjalan begitu cepat, dunia akan kita lalui, dunia akan selesai, dan kita harus mengisi hari di dunia dengan amal salih sebagai bekal untuk pulang.

Jamaah shalat jumat yang dirahmati Allah

Dalam perjalann kita di dunia ini, misalkan kita mau ke suatu tempat. kita tentunya harus tau kondisi dan situasi perjalanan yang akan kita tempuh. Bisa dengan mengumpulkan data dengan bertanya kepada mereka yang sudah berpengalaman atau seminimalnya punya pegangan peta, dengan canggihnya teknologi kita di zaman ini sangat mudah mengakses peta dalam bentuk digital.

Perjalanan di dunia yang sementara ini saja kita butuh yang Namanya peta. Jangan sampai dalam perjalanan menuju pemberhentian terakhir kita dari dunia ke akhirat kita tidak pernah mempelajari peta yang Allah sediakan.

Peta tersebut adalah Al-Quranul Karim. Allah telah karuniakan Al-Quran sebagai pedoman agar kita tidak tersesat.

Jamaah shalat jumat yang dirahmati Allah

Allah menjelaskan peta perjalanan manusia yang digambarkan dalam surat al-insan

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

هَلْ اَتٰى عَلَى الْاِنْسَانِ حِيْنٌ مِّنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُنْ شَيْـًٔا مَّذْكُوْرًا

Bukankah telah datang kepada manusia suatu waktu dari masa yang ia belum merupakan sesuatu yang dapat disebut? Al-Insān [76]:1

اِنَّا خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ مِنْ نُّطْفَةٍ اَمْشَاجٍۖ نَّبْتَلِيْهِ فَجَعَلْنٰهُ سَمِيْعًاۢ بَصِيْرًا

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur. Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan) sehingga menjadikannya dapat mendengar dan melihat. Al-Insān [76]:2

اِنَّا هَدَيْنٰهُ السَّبِيْلَ اِمَّا شَاكِرًا وَّاِمَّا كَفُوْرًا

Sesungguhnya Kami telah menunjukkan kepadanya jalan (yang lurus); ada yang bersyukur dan ada pula yang sangat kufur.  Al-Insān [76]:3

Manusia berasal dari ketiadaan, lam yakun syaian mazkura. Lalu diciptakan, kemudia ada, min nutfatin masaj, bermula dari bercampurnya air laki laki dan Perempuan, menjadi janin, bayi, balita. lalu menjadi mumayyiz, nabtalihi yakni awal terkenai taklif atau pertanggung jawaannya. Nabtalihi menjalani peristiwanya sebagai hidup dan ujian. Ia dibekali potensi menjaga tubuh dan materinya untuk tumbuh dan berkembang, berupa potensi indra, fajaalnahu samian basira

Manusia juga diberi petunjuk menjalankan potensi ruhaniyahnya, hadainahu sabila dalam bentuk ajaran islam. Setelah semua fase itu, lalu terserah manusia mau menjalankan hidup sesuai dengan petunjuk tuhannya imma syakira atau memilih untuk bebas menjalani hidupnya sesuai yang ia mau dan tidak tunduk atas ketentuan yang ditetapkan oleh penciptanya imma kafura

اِنَّآ اَعْتَدْنَا لِلْكٰفِرِيْنَ سَلٰسِلَا۟ وَاَغْلٰلًا وَّسَعِيْرًا

Sesungguhnya Kami telah menyediakan bagi orang-orang kafir rantai, belenggu, dan api (neraka) Sa‘ir (yang menyala-nyala).  Al-Insān [76]:4

وَجَزٰىهُمْ بِمَا صَبَرُوْا جَنَّةً وَّحَرِيْرًاۙ

Dia memberikan balasan kepada mereka atas kesabarannya (berupa) surga dan (pakaian) sutra. Al-Insān [76]:12

Setiap hidup manusia yang ia Jalani itu berada di ujung jalan yang berbeda, inna a’tadna lilkafirina salasila wa aghlala wa sa’ira adalah ujung dari kekufuran. wajazahum bima sabaru jannata wa harira adalah ujung dari keimanan

اِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الْاَرْضِ زِيْنَةً لَّهَا لِنَبْلُوَهُمْ اَيُّهُمْ اَحْسَنُ عَمَلًا

Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di atas bumi sebagai perhiasan baginya agar Kami menguji mereka siapakah di antaranya yang lebih baik perbuatannya. Al-Kahf [18]:7

Dunia disebut sebagai zinah, hiasan. Sebab ia dihiasi oleh sesuatu yang menarik, sehingga memalingkan manusia dari tugas kemanusiaannya. Manusia tercipta dari materi dunia. Karena itu dunia menariknya untuk dikejar dan dikuasai.

خَلَقَكَ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُّطْفَةٍ ثُمَّ سَوّٰىكَ رَجُلًاۗ 

Apakah engkau ingkar kepada (Tuhan) yang menciptakanmu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan engkau seorang laki-laki yang sempurna? Al-Kahf [18]:37

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

اَلْمَالُ وَالْبَنُوْنَ زِيْنَةُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۚ وَالْبٰقِيٰتُ الصّٰلِحٰتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَّخَيْرٌ اَمَلًا

Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, sedangkan amal kebajikan yang abadi (pahalanya) adalah lebih baik balasannya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan. Al-Kahf [18]:46

almalu walbanuna zinatul hayatiddunya, manusia berlomba memamerkan kekayaan dan keturunan. Sehingga tergoda untuk menukar akhiratnya, meskipun sudah diingatkan walbaqiyatussolihatu khoirun inda robbika sawaba wa khoirun amala. Khoirun amala atau sebaik-baiknya harapan adalah tetap bersabar memilih jalannya. Di saat jalan mereka mengingkari tuhan, seolah menang dan mendatangkan keuntungan dunia. Tetap bersabar untuk berpegang pada lakinna hua robbi la usyriku birobbi ahada. Bahwa yang besar hanya Allah karena itu jangan hendak membesarkan yang lainnya.

Nabi SAW bersabda

> “ما لي وللدنيا؟! ما أنا في الدنيا إلا كراكبٍ استظل تحت شجرةٍ ثم راح وتركها.”

“Apa urusanku dengan dunia? Sesungguhnya aku di dunia ini hanyalah seperti seorang pengendara yang bernaung di bawah pohon, kemudian pergi meninggalkannya.”

(HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Ibn Majah – dinilai hasan sahih oleh at-Tirmidzi)

Nabi menggambarkan dunia ini bagaikan tempat istirahat sementara, seperti seorang musafir yang hanya berteduh sebentar di bawah pohon, lalu melanjutkan perjalanan. Oleh karenanya, jangan menjadikan dunia sebagai tujuan, tetapi hanya sebagai persinggahan menuju akhirat.

Hadis ini disampaikan sebagai pengingat agar kita umatnya tidak terlalu larut dalam kenikmatan dunia yang fana.

Maasyiral muslimin rahimakumullah

Di sini kami menyampaikan kepada jamaah khususnya pada diri khotib pribadi untuk mempersiapkan bekal menuju pemberhentian akhir dari segala kesibukan kita di dunia. Dan selalu mentadabburi Al-quran sebagai peta perjalanan kita agar tidak tersesat selama perjalanan, hingga dengan mudahnya kita sampai ke pemberhentian terakhir, yakni beristirahat dengan tenang di surganya Allah Bersama para anbiya dan solihiin.

Semoga kita menjadi hamba Allah yang sadar bahwa dunia ini sementara dan akhirat adalah kehidupan kekal selamanya. Dan Semoga kita termasuk orang orang yang Allah ridhoi untuk menuju surganya. Aamiin aamiin ya rabbal aalamiin

Barakallahu lii walakum fil quranil Adzim

Wanafani waiyyakum bima fiihi minal Ayati Bizikril Hakim

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْم.

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى

آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

 أَمَّا بَعْدُ،

 فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا ٥٦ ،

 اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top